Find anything on DBL Indonesia
The Journey of AZA Shoes
13 December 2018

Tak terasa, sejak 2009 hingga 2017 sudah ada lima DBL Shoes yang diproduksi masal dan kelimanya sangat diterima masyarakat. Tak hanya terjangkau, sepatu basket tersebut juga memiliki kualitas yang tak kalah dengan sepatu di pasaran. Inilah sedikit cerita bagaimana DBL Shoes berkembang.AZA 1 (League Gravity 2k8 DBL): Cikal Bakal dari Langkah AwalSemua berawal dari tahun 2009. Kala itu, Azrul Ananda, CEO dan Founder DBL Indonesia yang sedang meeting bersama Prajna Murdaya, Bos Grup Berca memberikan sebuah penawaran secara tiba-tiba berupa dua pasang sepatu bermerk League. Sepatu tersebut memiliki dua warna yaitu putih polos dengan aksen jahitan biru, satu lagi hitam polos dengan aksen jahitan emas dengan logo DBL di belakangnya lengkap beserta Azrul Ananda dan tanda tangannya. Desain ini seolah menggambarkan memulai segalanya dengan kertas kosong yang siap digambar menjadi lebih sesuatu yang besar.AZA 2 (League Pure Player Ltd AZA): Kolaborasi yang BerlanjutMelihat antusiasme yang besar, kolaborasi pun berlanjut ke sepatu yang kedua. Bernama League Pure Player Ltd AZA, sepatu ini menggambarkan identitas DBL Indonesia dengan warna biru tua. Unsur itu semakin kuat dengan logo si Det (maskot Honda DBL berwujud anjing bertelinga panjang kala itu) berwarna jingga.AZA 3 (League Yin Yang Ltd Azrul Edition): Segudang Cerita dari Warna HijauHijau. Warna inilah yang membuat sepatu ini punya banyak cerita. Hijau selalu menjadi identitas warna olahraga yang ada di Jawa Timur khususnya Surabaya. Jika Jika edisi pertama putih dan hitam polos sebagai simbol awal yang bersih, kemudian yang kedua biru dan oranye sebagai warna asli DBL, edisi ketiga ini menggambarkan perjalanan hidup Azrul Ananda yang tinggal di Surabaya dengan warna dominasi hijau dan kampus tempat kuliahnya dulu, California State University, Sacramento.AZA 4 (League Hyper Drive 2 Low AZA): Sacramento Kings yang DisepatukanDi edisi keempat yang dirilis tahun 2012, Hyper Drive 2 Low AZA menjadi sepatu kolaborasi terakhir DBL Indonesia dengan League. Sepatu dengan warna hitam berpadu ungu tersebut menjadi sepatu ditunggu oleh banyak penggemar basket kala itu. Bukan tanpa alasan, warna sepatu ini terinspirasi oleh kesukaan Azrul Ananda terhadap salah satu tim basket NBA, Sacramento Kings yang memiliki warna khas berupa ungu.AZA 5: We Break the Barrier!Selama penyelenggaraan Honda DBL di berbagai kota, sepatu seolah menjadi barrier atau penghalang para pebasket muda untuk mengembangkan bakatnya. Akhirnya, DBL Indonesia bertemu dengan partner baru yang juga berpusat di Surabaya, Ardiles. Keduanya memiliki tujuan yang sama yaitu membuat sepatu basket yang berkualitas tinggi, keren, tapi dengan harga terjangkau. Untuk menghancurkan barrier, sekaligus memudahkan semakin banyak anak Indonesia bermain basket.Kala membuat sepatu ini, DBL Indonesia menekankan bahwa harga harus di bawah Rp 500 ribu. Tantangan itu pun langsung dijawab dengan spektakuler. Ardiles  mematok sepatu dengan harga dibawah Rp 400 ribu. Akhirnya, terlahirlah AZA 5 di penghujung 2017 dengan harga Rp 349 ribu.Sepatu AZA 5 ini seolah menjadi penghancur penghalang dalam bermain basket. Hal ini terbukti dari tingginya penjualan sepatu ini. Bahkan, kota-kota kecil di beberapa provinsi, AZA 5 dapat ditemukan di toko-toko “tradisional” di pinggir jalan. AZA 6: Sebuah EvolusiTak lama setelah AZA 5 dirilis, DBL Indonesia dan Ardiles langsung move on dan mengembangkan project baru yang bernama AZA 6. Sebuah evolusi pun muncul pada produk kedua DBL Indonesia bersama Ardiles dalam sepatu basket tersebut. Selain bisa untuk basket, sepatu ini juga memiliki konsep yang wearable dan nyaman digunakan di berbagai kegiatan. Karena, tidak semua orang/anak bisa atau mampu membeli lebih dari satu sepatu.Dengan kenaikan kelas tersebut, DBL Indonesia dan Ardiles juga tetap memasang sebuah “batas” dalam pembuatan sepatu ini. yaitu tidak lebih dari Rp 500 ribu. Dalam tulisan Mimpi Sepatu Aza yang ditulis oleh Azrul Ananda, Ia berharap AZA 6 harus mendorong lagi industri olahraga Indonesia, sambil terus mendorong partisipasi basket untuk berbagai kalangan. (*) ...

 
Mimpi Sepatu AZA
9 December 2018

Oleh: AZRUL ANANDAOrang tua saya selalu mengingatkan ini: Kalau mengerjakan sesuatu, jangan terlalu dipikirkan. Yang penting terus kerja keras, nanti hasil dan yang diinginkan akan datang dengan sendirinya.Dalam hidup saya, pesan tersebut telah terbukti dalam berbagai bidang. Yang tidak pernah saya bayangkan, bisa menjadi kenyataan di dunia sepatu. Lebih spesifik lagi: Sepatu basket.Walau pernah jadi kolektor sepatu level gila, saya tidak pernah membayangkan bakal punya sepatu edisi Azrul Ananda alias Aza. Apalagi sampai enam edisi, dengan hadirnya AZA 6 hasil kolaborasi Ardiles dan DBL di penghujung 2018/awal 2019 ini.Bukan sekadar punya sepatu, semuanya membawa misi jelas.Bukan sekadar punya-punyaan. Bukan sekadar keren-kerenan.Walau tetap harus keren!Awalnya, sepatu Azrul Ananda adalah untuk membuktikan kalau industri olahraga di Indonesia bisa bikin sesuatu yang keren. Dan belakangan --dimulai dengan AZA 5 di penghujung 2017-- supaya industri olahraga Indonesia bisa mendorong partisipasi olahraga di negeri sendiri.Semua itu bermula pada 2009…DARI ASING KE INDONESIAPada 2008, liga basket SMA yang saya prakarsai, Honda DBL, mulai agresif berekspansi ke berbagai penjuru Indonesia. Dalam beberapa tahun hingga 2008, liga ini telah di-support oleh brand sepatu basket asing. Keinginan untuk bekerja bersama brand Indonesia belum terwujud.Kemudian, sahabat saya Prajna Murdaya –bos Grup Berca-- memberi penawaran yang tidak mungkin kami tolak. Dalam sebuah meeting, dia tiba-tiba menunjukkan dua pasang sepatu merek League. Yang satu putih polos dengan aksen jahitan biru, satu lagi hitam polos dengan aksen jahitan emas. Di bagian belakangnya ada logo DBL. Di lidahnya ada nama “Azrul Ananda” dan tanda tangan saya.Sepatu itu bernama Gravity 2k8 DBL. Sekarang, saya mengingatnya sebagai AZA 1. Desain polos sangat saya sukai, karena seperti memulai segalanya dengan kertas kosong.Dan ini sepatu Indonesia, buatan Indonesia. Eng ing eng! Sekarang waktunya melangkah ke depan!Ternyata, sambutan penjualan sepatu itu menggembirakan. Setelah itu, setiap tahun, muncul edisi Azrul Ananda.Pada 2010, ada Pure Player Ltd Aza, dengan desain tinggi dan warna biru gelap beraksen oranye. Warna itu adalah warna corporate orisinal DBL, sekaligus salah satu kombinasi warna favorit saya.Pada 2011, ada Yin Yang Ltd Azrul Edition. Sepatu ini bisa dibilang yang membuat “brand AZA” melejit. Warnanya kombinasi hijau dan putih. Satu, karena besar di Surabaya dan Jawa Timur, di mana tradisi olahraganya selalu berwarna hijau. Plus, almamater saya adalah California State University Sacramento, yang warnanya identik hijau.Saya punya pengalaman seru soal Yin Yang ini. Mas Imam Nahrowi, Menteri Pemuda dan Olahraga yang juga dari Jawa Timur, ternyata pernah membeli dan mengenakannya. Alasan dia sangat bisa dimaklumi: Karena warnanya hijau…Lalu pada 2012, muncul Hyper Drive 2 Low AZA. Warnanya hitam sembur ungu. Sumber inspirasinya: Sacramento Kings, tim basket favorit saya.Semuanya selalu mendapat sambutan pasar yang baik. Selalu sold out, bahkan harus diproduksi ulang. “Sepatu edisi Azrul Ananda selalu menjadi produk yang ditunggu-tunggu,” kata Prajna saat rilis Hyper Drive 2 Low AZA dulu.Pada saat ini, saya mulai terbiasa lihat nama dan tanda tangan saya pada sebuah sepatu, atau terpasang pada dinding gerai sportswear di berbagai mal.Saya selalu merasa aneh. Karena walau saya suka olahraga dan bisa banyak olahraga, saya bukan pemain basket! Pemain NBA saja belum tentu punya sepatu sendiri. Pemain Indonesia saja belum ada, walau akan segera ada.Mungkin, orang memberi respons positif karena semua produk itu dihasilkan berkat misi yang positif dan benar-benar dari hati. Karma?THE NEXT LEVELWaktu berjalan. DBL terus berkembang. Saya bahkan punya pengalaman manis dan berharga menjadi commissioner liga basket nasional (NBL Indonesia) selama lima musim.Saya menyadari, harus ada upaya ekstra untuk membuat basket semakin populer di Indonesia. Basket sudah populer. Tapi belum sepopuler yang diimpikan banyak penggemarnya.Ya, DBL, tepatnya Honda DBL, sudah menjangkau hampir semua provinsi di Indonesia. Ya, peserta liga basket pelajar ini sudah lebih dari 40 ribu orang setiap tahunnya, dengan penonton di stadion lebih dari 1 juta orang per tahun.Tapi, basket masih belum sebesar itu. Basket masih bisa jadi jauh lebih besar lagi. Itu berarti, partisipasinya harus ditingkatkan. Saya percaya, olahraga apa saja, kalau mau maju, harus terus bekerja keras untuk meningkatkan tingkat partisipasinya. Baik itu partisipasi sebagai peserta maupun menjadi penonton/penggemar.Lalu saya dan teman-teman di DBL Indonesia, perusahaan anak muda dan olahraga, memikirkan faktor-faktor apa yang menghalangi partisipasi tersebut. Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk mendorong partisipasi tersebut.Ternyata, untuk basket, salah satu kendala adalah sepatu.Ya, di negara kita ini, harga sepatu basket bisa menjadi sebuah barrier. Sebuah pe...

 
Junior DBL Kolaborasi Internasional di Akhir 2019
8 December 2018

Surabaya – Konsisten digelar sejak 2005, JRBL (Junior Basketball League) akan naik level pada 2019 nanti. Kompetisi basket pelajar tingkat SMP ini bakal mengusung konsep baru. Serta, akan melibatkan kolaborasi internasional. Seperti sang 'kakak', Honda DBL (Developmental Basketball League), yang telah diakui sebagai kompetisi basket pelajar terbesar di tanah air.Diawali dengan rebrand atau penggantian nama liga menjadi Junior DBL. Perubahan ini sudah dirilis November 2018 kemarin. Pada babak penyisihan Surabaya. Babak utama akan digelar Januari nanti di DBL Arena Surabaya. Namun, masih dengan konsep lama seperti tahun-tahun sebelumnya.Konsep baru Junior DBL akan diterapkan penuh pada season 2019. Menurut rencana, akan digelar di tujuh kota, dari tujuh provinsi. Yakni, Surabaya, Jogjakarta, Solo, Bandung, Jakarta, Balikpapan, dan Denpasar. Tip-off musim baru (Junior DBL) ini dimulai Oktober 2019 mendatang.”Banyak upgrade yang akan kami lakukan. Tujuannya, agar kompetisi yang melibatkan student-athlete tingkat SMP ini (Junior DBL) makin membesar. Sama besarnya seperti Honda DBL,” ujar Masany Audri, Direktur DBL Indonesia.Digelar sejak 2005 di Surabaya. Kompetisi basket tingkat pelajar SMP ini semula diputar hanya sebagai pendukung untuk liga SMA (DBL). Pada tahun 2015, diperluas pelaksanaannya di tujuh kota dari enam provinsi di Indonesia. Lebih dari 6.000 studentathlete berpartisipasi dan melibatkan lebih dari 170.000 penonton.Seiring pertumbuhan secara spektakuler itu. DBL Indonesia selaku penyelenggara, bertekad memperbesar Junior DBL. Mengikuti model pengembangan DBL yang akhirnya dimainkan di setiap wilayah di Indonesia.Sama seperti DBL, Junior DBL nantinya tak hanya mengakomodir passion para siswa SMP di bidang basket. Melalui kompetisi dance serta jurnalistik sebagai bagian dari rangkaian kegiatan ini. (*)...

 
Measurement Test Jadi Materi Pembuka
26 November 2018

Para pemain terbaik dari 30 kota tempat diselenggarakannya Honda DBL 2018 sudah mulai berdatangan di Surabaya hari ini. Acara yang akan dimulai pada tanggal 28 November hingga 1 Desember yang diadakan di DBL Academy Pakuwon Mall akan mempertemukan 250 campers dari seluruh Indonesia.Kesempatan hari ini dirasakan pertama kali oleh First Team asal Jambi, Medan, Aceh, Papua, Merauke dan Jakarta. Para pemain pilihan langsung dibawa menuju ke hotel Ibis Budget untuk mengikuti agenda measurement test.Measurement test ini dilakukan untuk mengukur vertical jump, lebar tangan, lebar jangkauan, tinggi dan berat badan para campers yang nantinya akan memperebutkan tiket emas ke Amerika sebagai Honda DBL Indonesia All Star team."Measurement test ini bertujuan untuk mengetahui profil dari para campers. Jadi dengan ini kami bisa mengetahui progres para campers yang tahun lalu sudah mengikuti camp dan juga untuk data para campers yang baru bergabung," jelas Alfian yasir, PIC Honda DBL Camp 2018.Salah satu campers asal Sumatra series, Frederick Francisco yang sangat menikmati kegiatan hari pertamanya. Antusias itu tergambar ketika ia sharing tentang kegiatan ini kepada Alfian Yasir. Beberapa pertanyaan pun terlontar, salah satunya adalah tentang tujuan dari measurement test ini."Melihat hasil measurement test kali ini saya merasa mengalami peningkatan dibeberapa bagian fisik. Terutama dalam berat badan, tinggi badan, dan vertical jump. Menurut saya, test ini juga berfungsi buat kita para campers untuk tahu detil dari fisik sendiri," ungkap campers yang tahun lalu masuk 50 besar Honda DBL Camp tersebut....

 
Lima Pelatih Basket Top Australia Latih ‘Student-Athlete’ Terbaik Indonesia
25 November 2018

Gelaran Honda Developmental Basketball League (DBL) 2018 memasuki tahapan puncak. Mulai 28 November hingga 1 Desember mendatang, pemain dan pelatih terbaik dari 30 kota 22 provinsi berkumpul di Surabaya untuk bersaing dalam Honda DBL Camp 2018. Inilah camp basket pelajar terbesar tanah air, sebagai seleksi tim Honda DBL Indonesia All-Star 2018.Pemusatan latihan basket pelajar terbesar tersebut rutin digelar sejak 2008 di Surabaya. Saat itu, masih bernama Indonesia Development Camp yang diselenggarakan atas kerja sama DBL Indonesia bersama NBA. Dilatih langsung oleh Danny Granger, anggota tim NBA All-Star 2009.Sejak 2010, DBL Indonesia bekerjasama dengan World Basketball Academy (WBA) Australia. Dipimpin legenda basket Australia Andrew Vlahov, yang bakal didampingi oleh Shane Froling, CJ Jackson, Mark Heron, dan Makailah Dyer. Kelima pelatih top WBA ini akan menjadi camp coordinator berkolaborasi dengan tim pelatih dari DBL Academy, satu-satunya akademi basket profesional berstandar internasional di Indonesia.Honda DBL Camp merupakan tahap akhir dari penyelenggaraan Honda DBL 2018. Seperti tahun sebelumnya, dari 30 kota 22  provinsi penyelenggaraan Honda DBL, terpilih DBL First Team, yaitu pemain dan pelatih terbaik. Masing-masing berisi lima pemain putra, lima pemain putri, dan dua pelatih. Total 303 student-athlete dan pelatih yang akan mengikuti Honda DBL Camp 2018.Selama empat hari, para campers, sebutan peserta Honda DBL Camp, akan berlatih dan bersaing. Mereka harus bekerja keras mengerahkan kemampuan terbaik. Puncaknya, akan dipilih 12 putra, 12 putri, serta empat pelatih sebagai tim Honda DBL Indonesia All-Star 2018. Tim elit tersebut akan belajar dan bertanding di Amerika Serikat!“Sudah 10 tahun kami konsisten mengumpulkan pemain-pemain muda terpilih dari seluruh Indonesia. Kami mencari pemain yang punya kemampuan basket dan fisik terbaik serta berkarakter untuk menjadi tim Honda DBL All-Star 2018. Mereka akan kami terbangkan ke Amerika mengikuti rangkaian program yang sudah kami siapkan di bulan Februari mendatang,” ungkap Masany Audri, Direktur DBL Indonesia.Melalui Honda DBL Camp, Masany meyakini bahwa jadi wadah penting bagi para student-athlete untuk bisa mengembangkan kemampuan mereka.”Honda DBL Camp ini adalah sebuah pencapaian, satu langkah lagi mereka menjadi pemain terbaik dari yang terbaik di seluruh Indonesia," pungkasnya. (*)...

 
BUMI GORA LUAR BIASA
23 November 2018

MATARAM - ENAM hari pelaksanaan Honda DBL West Nusa Tenggara Series 2018 memberikan kesan positif bagi Bumi Gora. Sebanyak 24 tim putra dan putri telah menunjukkan pertandingan yang kompetitif.Seluruh pemain, mengeluarkan kemampuan terbaiknya untuk mengangkat marwah tim sekolahnya di perhelatan kejuaraan bola basket antar pelajar paling bergengsi di tanah air itu.Dari hasil turnamen, kategori putra mempertemukan SMA Kesuma Mataram (Smakerz) kontra SMAN 5 Mataram (Smala). Di laga final, Smakerz keluar sebagai juara tahun ini. Sekaligus mempertahankan gelar tahun lalu dan mencatatkan gelar kelima kalinya di Honda DBL West Nusa Tenggara Series.Sementara rivalnya, Smala harus puas di runner up.  Mereka gagal mengulangi kesuksesannya pada 2010 dan 2016 silam. Pada tahun itu, mereka meraih gelar juara.Sedangkan di kategori putri, mempertemukan SMAN 1 Mataram (Smansa) versus Smakerz. Smansa sukses merebut gelar tahun ini, sekaligus mengulangi kejayaannya di 2015 dan 2016 lalu.Sementara Smakerz harus menambah penantian panjangnya untuk menjadi ratu DBL. Selama mereka mengikuti Honda DBL, mereka tidak pernah merasakan gelar.Honda DBL West Nusa Tenggara 2018 berbeda dibanding sebelumnya. Karena, NTB menjadi korban gempa. Tahun ini, penonton di gratiskan. Bahkan sebelumnya, dilakukan charity untuk membantu memulihkan semangat pebasket NTB pasca gempa.Hadirnya Honda DBL West Nusa Tenggara tahun ini mampu membangkitkan semangat masyarakat NTB. Keseruan yang dihadirkan di Honda DBL menjadi trauma healing bagi para korban gempa.Artinya, kini Bumi Gora sudah bangkit. Bumi Gora Luar Biasa. (arl)**Berita oleh Lombok Post ...

 
MORE NEWS