Find anything on DBL Indonesia

Latihan Keras dibayar 13 Pasang Sepatu

dblindonesia.com - 28 February 2018 Suhu yang rendah selama di Los Angeles ternyata sempat bikin Miky (depan) kesulitan saat latihan.

Story by: Mekhail ‘Miky’ Fidel Afloubun

Latihan…latihan…dan latihan. 

Sejak diumumkan kalau aku masuk tim Honda DBL All Star, yang aku bayangkan adalah serangkaian latihan yang mungkin lebih keras dari pada latihanku di Indonesia. Aku nggak berekspektasi kalau kami bakal dapat banyak surprise dari DBL Indonesia selama di Amerika Serikat (AS). Karena itulah, satu-satunya yang aku siapkan cuma stamina dan beberapa baju hangat buat di sana.

Bermodal satu koper yang hanya cukup untuk memuat bajuku plus sebuah gym bag, aku berangkat bareng teman-teman skuad Honda DBL All-Star. Perjalanan selama 26 jam akhirnya mengantarkan kami sampai ke Los Angeles (LA). 

Istirahat semalaman cukup untuk membayar lelahnya perjalananku itu. Soalnya, keesokan harinya, aku dan teman-teman harus mulai untuk sparing perdana.

Nah, ini nih sparing yang udah aku tunggu sejak dari Indonesia. Hari itu kami ditantang untuk melawan Recreational League, sebuah tim yang berisi pemain unggulan dari salah satu area di LA. Waduh, ternyata melawan mereka bukan hal yang mudah.

Meski skill kami nggak kalah, tapi pada akhirnya kami harus mengakui keunggulan mereka. Pertandingan itu berakhir dengan skor dramatis 70-73. Oh, mungkin aku dan tim Honda DBL All-Star masih agak jetlag setelah perjalanan berjam-jam. Hahaha.

Latihan yang lumayan bikin capek justru terjadi di hari berikutnya. Selama dua hari, kami digembleng habis-habisan di Sports Academy yang punya standar latihan ala NBA. Bisa dibayangkan? Sesi latihan kali ini lebih fokus ke explorasi skill individu. 

Sekilas, waktu penjelasan, aku mengira latihan ini bakal easy aja. Dugaanku nggak melenceng. Tapi kurang tepat. Karena ternyata tantangan terberat bukan pada jenis latihannya. Tapi…suhu!

Ya ampun, suhu di LA saat itu lagi dingin-dinginnya. Asli! Kalau di Indonesia, aku udah terbiasa latihan di suhu 27-33 derajat. Nah, begitu kena suhu 9-12 derajat, ya mampus lah aku. Suhu kayak gini bikin aku susah ambil nafas. Akhirnya, latihan yang harusnya ringan malah bikin ngos-ngosan nggak karuan. Wah, nggak lagi deh meremehkan latihan di sini.

Setelah puas bermandikan keringat, giliran memuaskan dahaga untuk belanja. Ya, apalagi kalau bukan sneakers hunting. Kami berangkat ke salah satu mall untuk hunting sepatu ini itu. Wah gila, man! Ini tempat memang udah kayak surga aja buat pecinta sepatu. Well, aku bukan pecinta sepatu. Tapi jujur tempat ini langsung bikin aku kalap.

Di sana aku cuma beli tiga pasang. Iya, itu emang jumlah yang nggak sedikit juga sih. But I swear, aku udah mati-matian biar nggak khilaf kok. Hehehe. Namun aku nggak menyesal. Karena beberapa hari kemudian kami diajak sneaker hunting lagi. Kali ini aku jauh lebih kalap dari sebelumnya. Sembilan pasang sepatu sukses tercatat di struk belanjaanku kali ini. 


Miky sibuk memilih sepatu yang tepat saat shopping time di Foot Locker.

Hm, sebenarnya itu nggak buat aku semua juga sih. Aku beli dua pasang sepatu buat coach Anggi dan coach Arief. Mereka berdua itu pelatihku di sekolah. Rasanya nggak ada yang lebih berjasa buat mengantarkan aku ke Amerika selain mereka berdua. Well, they deserve much more than these shoes.

Hingga di akhir jadwal perjalanan, aku menemukan sepatu yang udah aku cari dari lama. Aku jelas ragu buat beli karena udah beli banyak. Tapi, sepatu ini nggak bakal ada di Indonesia. Ya udah deh, aku lagi-lagi harus mengeluarkan uang buat bawa pulang sepatu tersebut. Emang ya, guilty pleasure banget kalau belanja sepatu.

Dan yang namanya masalah datang di saat yang nggak terduga. Aku memang nggak menyesal beli ketiga belas sepatu itu. Aku justru menyesal kenapa cuman bawa satu koper doang?! Karena ada beberapa sepatuku yang masih nggak bisa di pack masuk koper meskipun aku udah minjem satu koper milik panitia.

Terpaksa aku harus merelakan beberapa bajuku buat ditinggal di hotel. Saking penuhnya bawaanku, aku terpaksa menolak beberapa titipan sepatu dari teman-temanku di Indonesia. Sorry guys!

Well, at the end of the day, it is all paid off. Benar kata orang-orang, Amerika emang punya semua yang kita cari. This journey is priceless. Nggak cuma latihan dan belanja, segala pengalaman dan ilmu baru juga aku dapetin selama di sini. Yes, thank you Honda DBL All Star! (*)

***

Mekhail Fidel Afloubun sukses menjadi tim Honda DBL All Star 2017. Di tahun sebelumnya, siswa asal SMA Theresiana 1 Semarang ini harus merelakan perjalanannya sampai di Honda DBL Camp 2016. Cowok yang akrab disapa Miky ini memegang posisi forward di Honda DBL All Star 2017.

Administrator

SHARE THIS

TITLE PARTNER

OFFICIAL PARTNERS

OFFICIAL SUPPLIERS

MEDIA PARTNERS

SUPPORTED BY

Please to post comment

0 Comments