Find anything on DBL Indonesia

Ligamen Sobek, Irsyad: “Gue bisa ke lapangan lagi! I’m breaking my barrier!”

dblindonesia.com - 4 March 2018

#BreakingTheBarrier (1)

 

Di dalam hidup, sesekali rintangan menghadang. Pilihannya ada di kamu, apakah mau melaluinya dengan semangat atau rela mengalah begitu aja.

Seperti kisah Dewa, sang tokoh utama dari film Mata Dewa (2018), ketika salah satu matanya cedera permanen. Alih-alih memutuskan untuk berhenti bermain basket, Dewa justru membuktikan bahwa nggak ada satu pun hambatan yang bisa mengambil semangatnya.

Kisah Dewa di film Mata Dewa sebetulnya bukanlah fiksi. Kisah tersebut terinspirasi dari berbagai kejadian nyata, yang pasti dialami oleh sebagian besar manusia: terhalang oleh keadaan.

Misalnya kisah hidup Hendry Cornelius Lakay, pebasket asal SMA John XXIII Merauke di edisi Honda DBL Papua Series 2015. Sosok Hendry (yang cerita hidupnya dijadikan ramuan dalam skenario film Mata Dewa) menjadi pembuktian bahwa halangan ada bukan untuk dibiarkan menang, namun untuk dihadang! Selama ini, Hendry bermain basket hanya dengan mengandalkan satu matanyanya saja. Hasilnya? Hendry bisa membawa timnya hingga ke playoffs Honda DBL Papua Series.

Pengalaman serupa ternyata juga pernah dialami Muhammad Irsyadillah, aktor muda Indonesia. Ditemui dalam Gala Premiere film Mata Dewa di Jakarta pada Kamis (1/3) lalu, Irsyad menceritakan kisah pilunya semasa SMA yang hampir dikalahkan oleh keadaan.

Memilih profesi sebagai aktor dan telah malang melintang di dunia pertelevisian Indonesia, bukan berarti akting menjadi satu-satunya passion yang dia miliki. Ternyata, semasa SMA dulu, cowok kelahiran 1996 ini adalah atlet futsal di sekolahnya. Futsal adalah passion pertamanya.

Kisah pilu Irsyad dimulai ketika dia sedang aktif-aktifnya mengikuti berbagai turnamen mewakili tempatnya menimba ilmu, SMA Al-Izhar Pondok Labu, Jakarta Selatan. Dalam salah satu pertandingan, Irsyad mengalami cedera ligamen. Cedera di lututnya ini membuatnya harus  berhenti bermain futsal.

“Ketika ligamen gue sobek, gue patah hati banget. Karena mendadak gue harus bener-bener berhenti ngelakuin apa yang selama ini jadi passion gue,” ujarnya. “Kesedihan gue semakin bertambah ketika orang-orang di sekitar gue bilang kalau gue nggak akan bisa balik main futsal lagi,” tambahnya.

Namun, Irsyad nggak mau mengalah dengan keadaan begitu aja. Masa-masa vakum dari dunia futsal dimanfaatkannya untuk beristirahat sambil terus melakukan terapi. Sambil tetap memupuk kembali asa yang udah memudar, Irsyad bertekad untuk kembali ke lapangan. “Bagaimanapun caranya, gue harus balik ke lapangan!” ucapnya optimistis.

Tekad dan usahanya berbuah manis. Dokter akhirnya menyatakan bahwa Irsyad dapat kembali lagi ke lapangan.

“Rasanya seneng banget waktu tau gue bisa main futsal lagi. Pepatah anjing menggonggong kafilah berlalu itu tepat buat ngegambarin perasaan gue. Biarin aja orang mau ngomong apa, yang penting gue harus buktiin kalo gue bisa sembuh dan main futsal lagi. I’m breaking my barrier,” tukasnya. (fid)

Administrator

SHARE THIS

TITLE PARTNER

OFFICIAL PARTNERS

OFFICIAL SUPPLIERS

MEDIA PARTNERS

SUPPORTED BY

Please to post comment

0 Comments