Find anything on DBL Indonesia

Nickson Damara: Hilangkan Trauma, Bawa Merah Putih ke China

dblindonesia.com - 11 March 2018

#BreakingTheBarrier (6)

 

Peristiwa itu terjadi sekilas tapi menimbulkan bekas. Hari itu, Nickson kecil tengah bermain basket di lapangan belakang rumah. Seperti biasanya, ada adek dan kakak sepupunya yang setia menemaninya berlatih. Sang adek yang masih jahil kemudian mencoba memanjat ring portable yang ada di pinggir lapangan.

‘’Braaaak!!,’’ suara keras itu membuat Nickson menoleh. Satu-satunya yang dia dapati di sana adalah adiknya dalam kondisi kesakitan dengan ring portable yang menimpa tangannya.

Sejak hari itu, Nickson Damara, si atlet kecil, selalu terbayang-bayang dengan apa yang terjadi. Malang, tangan adiknya patah karena kejadian tersebut. Hal itu tentu membuat Nickson terpukul.

‘’Aku nggak mau main basket lagi,’’ ujarnya pada diri sendiri.

Rasa trauma menyebabkan Nickson memilih mundur dari olahraga satu yang udah digelutinya sejak TK ini. Dia takut lapangan yang keras itu akan membuatnya cedera seperti sang adik.

Tahun berlalu. Nickson kecil tumbuh menjadi remaja. Di bangku SMP, Nick mulai melihat teman-temannya masuk ekstrakulikuler yang sesuai minatnya. Bagi Nick, satu-satunya ekskul yang menarik cuma basket. Sayangnya, kenangan soal adiknya membuat Nick harus menimbang-nimbang keputusannya untuk bergabung.

‘’Tapi, kalau nggak coba sekarang, aku bakalan terus-terusan trauma,’’ pikir Nickson.

Akhirnya, Nickson memberanikan diri untuk mendaftar tim basket di sekolahnya. Nickson yang masih duduk di bangku kelas 1 SMP itu harus menjalani seleksi bersama calon anggota tim lainnya. Bertahun-tahun nggak memegang bola basket, tangan dan kaki Nickson pun kaku. Hari itu juga, Nickson ditolak bergabung karena dinilai belum punya skill yang memadai.

Tapi, tekad remaja satu ini sudah bulat. ‘’Tahun depan, aku harus jadi tim inti,’’ batinnya semangat.

Sejak saat itu, dimulailah hari-hari Nickson yang dilewatinya tanpa meninggalkan satu hal: latihan! Mulai dari memperdalam skill dasar hingga memperkuat fisiknya. Meski kadang masih teringat peristiwa adiknya, Nickson segera menghapus kenangan itu dengan kerja keras.

Tahun kedua, hal yang dinantinya tiba. Seleksi tim basket dibuka lagi. Kali ini, Nickson udah lebih siap dari segala sisi. Tes drill maupun fisik berhasil dilewatinya dengan mudah. Tibalah saat yang mendebarkan, pengumuman anggota tim basket sekolah.

‘’Nickson Damara!,’’ panggil sang coach, menandakan dia bisa bergabung dengan tim basket yang dibanggakan sekolahnya. Nickson tersenyum, kerja kerasnya terbayar.

Setelah bergabung dengan tim, ternyata perjalanannya di tim basket nggak berjalan mulus. Masih banyak skill yang belum bisa dikuasainya. Nggak jarang teman setimnya bicara blak-blakkan dan mengejek gaya bermainnya.

‘’Apa sih dribble jelek banget gitu, bisa bikin tim kalah kalau main,’’ ujar salah seorang teman. Nickson hanya mengiyakan, berharap dia dapat memperbaiki kekurangannya tersebut.

Tapi, bukan itu saja masalahnya.

Pihak sekolah yang menjadi pintu untuk mengembangkan skillnya malah membatasi kompetisi yang bisa diikuti tim basket. Alasannya karena bisa mengganggu kegiatan sekolah. Nggak ayal, kemampuan Nickson pun sulit berkembang selama di bangku SMP. Jalan satu-satunya agar skill-nya dapat berkembang adalah dengan bergabung di club. Untuk itu, Nickson menghabiskan waktu 3-4 kali seminggu untuk melatih dirinya di club tersebut.

Dua tahun berikutnya, laki-laki kelahiran 2000 ini menjadi siswa SMA. Nggak perlu pikir panjang, Nickson langsung mendaftarkan diri di ekskul basket. Iya, Nickson emang diterima di tim basket tersebut. Sayangnya, pengalamannya yang masih minim menempatkannya di tim B dan bukan tim A.

Latihan dan latihan kembali dilakukan Nickson hingga sang pelatih mempercayainya untuk bergabung dengan tim A beberapa saat kemudian. Tahun 2015, Nickson terpilih untuk bermain di DBL Loop 3x3. Nggak berhenti di situ, dia juga berhasil menang dan membawa nama Mataram untuk bermain di ranah nasional.

‘’Indonesia udah, saatnya Nickson bawa merah putih ke kancah internasional,’’ batinnya saat itu.

Impiannya jadi nyata. Nickson yang dulu pernah trauma dengan bola basket itu akhirnya dipanggil untuk Fiba 3x3 U18 di Chengdu, China. Kesempatan itu langsung diambil Nickson untuk mengembangkan karirnya di dunia basket.

‘’Aku menerima kenangan masa kecilku yang emang cukup menyakitkan. Tapi, aku sadar kalau aku terus-terusan trauma, aku nggak bakal kemana-mana. I should break my barrier. I know I should’ve done it earlier,’’ tutup Nickson tegas.

---

Nickson Damara adalah siswa SMA Kesuma Mataram. Nick, panggilan akrabnya, baru saja pulang dari Amerika Serikat setelah menjadi bagian dari Honda DBL All Star 2017. Di pergelaran Honda DBL musim lalu, Nick juga berhasil membuktikan kemampuannya dengan menyabet gelar MVP.

Administrator

SHARE THIS

TITLE PARTNER

OFFICIAL PARTNERS

OFFICIAL SUPPLIERS

MEDIA PARTNERS

SUPPORTED BY

Please to post comment

0 Comments