Find anything on DBL Indonesia

"Spesial" Sejak Lahir, Irfan: “Aku Bisa Lebih Baik dari Orang Dengar”

dblindonesia.com - 9 March 2018 Priyaka Irfan Astama Harsono (tengah)

#BreakingTheBarrier (5)

 

Saya Tuli sejak lahir, tidak pernah bisa mendengar. Jadi saya tidak kehilangan pendengaran, karena saya memang tidak pernah punya itu.                                  

-Irfan

 

“Ibu yakin anaknya ingin jadi atlit Taekwondo?” tanyanya sekali lagi.

“Iya, pak,” Jawab sang mama mantap.

Suasana menjadi hening untuk beberapa saat. Hingga laki-laki yang menjadi pemilik club Taekwondo itu angkat bicara lagi.

“Saya akan bicarakan dulu dengan para pelatih ya, apakah mereka bersedia melatih Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) seperti anak ibu. Takutnya, anak ibu akan kesulitan mengikuti latihan karena sebelumnya belum ada atlit kami yang ABK,” Tuturnya.

Menyakitkan memang. Tapi, itu bukan hal yang baru lagi bagi Priyaka Irfan Astama Harsono. Ya, sejak kecil, Irfan udah sering dipandang sebelah mata karena keadaannya. Sejak lahir, cowok 24 tahun itu adalah seorang tuna rungu.

“Banyak orang yang meremehkan kaum Tuli atau Tuna rungu karena keadaan kami. Bahkan nggak jarang ada yang bilang kami bodoh, bego, budeg, dan kata-kata lain yang nggak pantas untuk didengar dan sangat menyakitkan hati. Tapi mama selalu bilang ke aku kalau perkataan mereka itu nggak penting,” kata Irfan.

Sejak umur sembilan tahun, Irfan menggeluti Taekwondo. Bagi Irfan, Taekwondo adalah satu-satunya olahraga yang bisa membuatnya cinta mati. Dengan Taekwondo, ia bisa menyalurkan energinya dan melalui Taekwondo, ia menemukan kebahagiaan tersendiri yang mungkin selama ini sulit ia dapatkan karena sering ‘diasingkan’ dari masyarakat.

Pernah suatu hari, ketika Irfan mengikuti tes masuk Perguruan Tinggi Negeri, ia mendapatkan pengalaman pahit yang sampai saat ini tidak bisa dilupakan dan membekas di hatinya. Kala itu, ia menggunakan alat bantu dengar di telinganya. Kemudian datanglah salah seorang wali murid mahasiswa baru untuk bertanya kepada mama Irfan.

“Itu yang ditelinga anak ibu apa ya?”

“Oh, itu alat bantu dengar. Anak saya tuna rungu.”

Lalu sang mama pun menjelaskan sedikit tentang keadaan Irfan. Sebelum akhirnya si wali murid itu bertanya lagi.

“Memang anak ibu bisa baca tulis kok daftar disini?”

Hening. Begitulah percakapan itu berakhir.

“Aku tau perasaan mama saat itu, pasti sakit hati sekali. Tapi mama cuma bisa membalas dengan senyuman kecut. Karena marah pun juga nggak ada gunanya,” curhat Irfan

Nggak lama setelah itu, Irfan resmi diterima di salah satu Perguruan Tinggi Negeri, Fakultas Ilmu Olahraga. Orangtuanya jelas bangga karena Irfan telah berhasil masuk ke Perguruan Tinggi Negeri impiannya, walaupun selama ini banyak hinaan yang datang dari masyarakat.

“Kamu harus buktikan ke mereka bahwa kamu bisa berprestasi, bisa kuliah dengan baik dan kamu tidak akan berhenti mencari ilmu dan akan terus belajar untuk mewujudkan mimpi kamu,” Kata sang mama kepada Irfan.

Nasihat itulah yang selalu dibawa Irfan. Kata-kata orangtuanya selalu memberinya semangat lagi dan lagi untuk terus berjuang mewujudkan mimpinya sebagai atlit Taekwondo internasional. Dia selalu berlatih habis-habisan untuk membuktikan kalau ia juga bisa berprestasi sekaligus menghancurkan stigma kalau orang Tuli atau Tuna rungu tidak bisa apa-apa.

Walaupun harus membutuhkan effort yang lebih, Irfan nggak gampang menyerah. Jika ia membutuhkan bantuan, Irfan nggak segan meminta tolong pelatih atau teman-temannya untuk membantunya. Dan ia tak pernah sekalipun menganggap keadaanya sebagai penghalang baginya menggapai mimpi.

And he did it! Irfan nggak cuma bisa membuktikan kalau dia bisa menyaingi kaum dengar, tapi ia juga sanggup membuktikan kalau dirinya bisa lebih baik! Hingga saat ini, udah nggak terhitung prestasi yang berhasil ia raih dalam bidang olahraga Taekwondo, dari kejuaraan nasional hingga internasional.

“Banyak kompetisi yang udah berhasil aku menangkan. Tapi yang paling berkesan adalah ketika aku menang medali perak dalam kejuaraan The 3rd Heroes Taekwondo International Championship, di Bangkok Thailand pada tahun 2017. Disitu semua pesertanya adalah orang dengar, sedangkan aku Tuli. Jadi sangat membanggakan karena aku bisa bersaing dengan mereka,” Ujar Irfan bangga.

Well after all, nggak ada yang namanya kita nggak bisa melakukan sesuatu. Semua pasti bisa kalau kita yakin bisa. Seperti kata Irfan yang bilang kalau nggak ada kesuksesan yang instan, semuanya harus didapat dengan berproses dan berprogres, so, berproses dan berprogreslah! And once again, don’t be afraid to break your barriers!

Administrator

SHARE THIS

TITLE PARTNER

OFFICIAL PARTNERS

OFFICIAL SUPPLIERS

MEDIA PARTNERS

SUPPORTED BY

Please to post comment

0 Comments